Jumat, 29 Oktober 2010

pertanda

Lia merasa atmosfer di kelas mata kuliah Menulis Indah hari ini agak sedikit berbeda dengan hari yang biasa. Ia merasakan ada sesuatu yang mengusiknya tapi entah apa. Semacam pandangan tajam yang menusuk-nusuknya dari salah satu sudut. Semacam perasaan yang tidak dapat ia mengerti.
Dosen pemberi mata kuliah memasuki ruang kelas dengan keterlambatan sekitar lima belas menit, lumayan untuk mengurangi seperempat beban belajar tiga sks yang di bawakannya hari ini. Lagi-lagi Lia memalingkan matanya ke penjuru kelas. Sesuatu sedang mengawasinya, sesuatu sedang melihatnya, sesuatu itu membuat perasaannya tidak tenang.
Akhirnya mata bulat Lia terantuk pada beberapa orang yang duduk berjarak empat kursi didepannya. Satu orang dengan rambut ikal dan berkuncir kuda dengan poni lebat ala Carla dalam salah satu sitkom televisi, satu orang dengan rambut sebahu lurus bagai iklan salah satu shampoo anti ketombe tapi sedikit lebih keras karena di catok, dan satu orang lagi dengan rambut bergelombang seperti tanaman lidah mertua. Entah kenapa mata Lia tertuju pada mereka padahal pemilik rambut-rambut tersebut tidaklah menujukan matanya pada Lia. Sesuatu membuatnya mematukkan mata pada mereka dan tebakan Lia benar, mata menusuk-nusuk itu berasal dari mereka.
Beberapa kali mereka menolehkan muka dan memusatkan mata pada Lia. Dan saat mata-mata itu beradu pada Lia, mereka dengan segera memalingkan wajah kembali melihat sang dosen. Ada sesuatu yang Lia endus, sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Intuisinya berjalan namun dalam keraguan, ia tidak yakin apakah kali ini feel yang ia punya tepat sasaran atau malah meleset lagi. Dan setelah perkuliahan di tutup, Lia masih bergelut dengan perasaannya sendiri mengenai feel yang ia rasakan. Bila tepat bagaimana dan bila salah bagaimana.
Setelah bergulat dan bergelut dengan diri sendiri, baru ia sadari bahwa kelas telah sepi. Dan celakanya lagi, ketiga mahluk yang dicurigainya telah menghilang. Lia mengeluarkan ponsel dan melihat jam yang tertulis disana. Ia telah menghabiskan 10 menit di kelas ini cuma untuk bergulat dan membiarkan mereka pergi! Sebuah pesan singkat ia kirim pada salah satu dari mereka. Meri, gadis yang berambut ikal dan berponi ala Carla itu adalah titik pusat pesannya. Ia merasakan suatu feel yang tidak biasa pada gadis itu.
“Di warung makan yang biasa”, jawab Meri dalam hitungan detik. Secepat kilat Lia menuruni tangga dan berjalan dengan cepat menuju warung makan yang dimaksud. Disana ia menemukan Meri dan dua orang teman tengah makan siang bersama. Begitu melihat Lia, Meri berdiri dan segera membayar makan siangnya.
“Kamu tidak bilang sesuatu tentang itu pada orang lain kan?”, tanya Lia setelah ia dan Meri sedikit menjauh dari warung makan. Meri memandang mata Lia sebentar lalu memalingkan mata ke tempat lain sebentar dan kemudian memandang mata Lia kembali. Matanya sedikit bergerak-gerak saat menjawab pertanyaan Lia. Dan jawaban itu membuat Lia segera menyingkirkan feel negative yang menyelimuti Meri.
Sudah lebih dari tiga bulan terhitung sejak pembicaraan itu terjadi dan Lia sudah hampir melupakan kejadian itu. Ia merasa bahwa apa yang ia terima dari atmosfer kala itu adalah suatu kesalahan rasa. Namun kali ini ia harus terhenyak karena apa yang ia kira sebuah kesalahan ternyata adalah sebuah kebenaran yang tersangkal. Karena kebenaran akan selalu bisa mencari jalannya sendiri meskipun tertutupi sekalipun.
“Meri tuh ga bisa di kasih tau rahasia karena pasti akan di bocorkan secara tidak langsung. Contohnya ia pernah bilang tentang rahasia seseorang di kelas kita. Ia bilangnya begini ‘seandainya teman dekat kalian ternyata lesbian, menurut kalian bagaimana?’. Rahasia yang begitu harusnya disimpan karena itu fatal bila ketahuan temen yang mulutnya ember. Dia bilang temen dekat ya pasti temen dekatnya dia kan? Dan tanpa ia sebutkan nama juga semuanya tau siapa temen dekat dia saat itu”, ujar Dini, salah seorang gadis yang berambut gelombang seperti lidah mertua itu.
Lia mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan perkataan Dini dan ikut menambahkan sedikit dengan ber-anu dan ber-ini. Sebuah rahasia fatal, sebuah rahasia yang bisa membuat seseorang kehilangan sesuatu karena terbongkarnya, dan juga sebuah rahasia yang bisa menguji kualitas seorang berlabel ‘teman’. Ingatan Lia kembali pada pembicaraan tiga bulan lalu saat ia menginterogasi Meri. Kala itu Meri menjawab pertanyaan Lia dengan penuh meyakinkan.
“Buat apa aku bocorin itu ke temen-temen? Lagi pula apa untungnya buat aku? Kalaupun aku membocorkannya, temen-temen yang lain juga pasti akan melihatku sama seperti itu. Sumpah, aku tidak mengatakan rahasiamu pada siapapun”, sangkalnya.
Lia menghela nafasnya, lagi dan lagi. Apa yang ia rasakan pada hari itu dengan apa yang ia dengar pada hari ini ternyata berhubungan. Waktu itu ia mengabaikan isyarat yang di tampakkan alam padanya, dimulai dari atmosfer yang menusuk, bahasa tubuh yang di perlihatkan Meri dan kegelisahan yang terpancar dari mata yang selalu bergerak itu. Lia lupa bahwa intuisinya yang benar selalu ia sangkal dan ia juga lupa bahwa udara yang memberitahunya akan sebuah kebenaran juga selalu ia tolak. Lia belajar pada hari ini bahwa ia perlu memilah kembali sebelum memberikan beberapa orang atau bahkan seseorang sebuah label bernama ‘teman’ dan ia juga belajar bahwa ia harus lebih percaya pada intuisi dan isyarat alam dibanding perkataan meyakinkan berlabel ‘sumpah’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar